PERISTIWA PEMINDAHAN ARAH KIBLAT DARI MASJIDIL AQSA KE KA’BAH PADA MASA NABI MUHAMMAD ﷺ
Perubahan arah kiblat merupakan salah satu peristiwa penting dalam sirah nabawiyah yang terjadi setelah pensyariatan azan. Awalnya Nabi Muhammad ﷺ dan para sahabat shalat menghadap Masjidil Aqsa di Baitul Maqdis selama lebih dari sepuluh bulan setelah hijrah ke Madinah. Meski demikian Rasulullah ﷺ terus berharap agar kiblat kembali ke Ka’bah yang merupakan kiblat para nabi terdahulu terutama Nabi Ibrahim ‘alaihis salam. Pada suatu hari saat shalat zhuhur di Masjid Bani Salimah di Madinah wahyu turun memerintahkan perubahan arah kiblat ke Ka’bah sehingga beliau segera memutar arah shalatnya dan para sahabat mengikutinya. Peristiwa ini kemudian dikenal dengan Masjid al-Qiblatain atau masjid dua kiblat.
Perubahan arah kiblat ini bukan hanya perubahan fisik tetapi membawa pelajaran penting bagi umat Islam. Allah menguji kaum muslimin untuk menunjukkan ketaatan mereka kepada perintahNya dan RasulNya. Ujian ini juga membedakan mereka yang benar-benar beriman dari yang hanya mengikuti tradisi semata. Dalam Al-Qur’an disebutkan bahwa perubahan kiblat membuat sebagian orang yang kurang berpikir mempertanyakan perubahan tersebut sebagai kebingungan atau kesalahan, sedangkan orang-orang beriman menerima dan tunduk tanpa ragu.
Para sahabat menunjukkan kepatuhan luar biasa terhadap perintah ini. Mereka segera mengubah arah shalatnya ketika perintah datang tanpa menunda-nunda. Kepatuhan cepat ini menunjukkan ketaatan total kepada Rasulullah ﷺ dan Allah serta menegaskan pentingnya taat dalam urusan ibadah. Peristiwa ini juga menguatkan prinsip bahwa dalam Islam ketaatan kepada perintah Allah dan Rasul adalah bukti keimanan yang sejati.
Nama Masjid al-Qiblatain menjadi saksi sejarah perubahan itu. Lokasi masjid ini di Madinah menunjukkan titik perubahan arah shalat kaum Muslimin dari Jerusalem ke Mekkah. Masjid ini menjadi tempat bersejarah yang selalu dikenang karena momen perpindahan kiblat ini merupakan salah satu perubahan paling signifikan dalam sejarah umat Islam yang membawa identitas tersendiri bagi umat.
Perubahan arah kiblat ini juga menguatkan keistimewaan Ka’bah sebagai pusat ibadah umat Islam di seluruh dunia. Penetapan Ka’bah sebagai kiblat bukan hanya menentukan arah fisik, tetapi juga simbol persatuan spiritual umat Islam yang tersebar di berbagai penjuru dunia. Sejak saat itu semua Muslim di mana pun berada diwajibkan menghadap Ka’bah saat shalat lima waktu sebagai bentuk ketaatan, kesatuan, dan penghormatan terhadap perintah Allah.
Sumber : https://rumaysho.com/32683-faedah-sirah-nabi-ini-kisah-pemindahan-arah-kiblat-dari-masjidil-aqsa-ke-kabah.html