TANGISAN RAJA NAJASYI SAAT MENDENGAR SURAH MARYAM
Pada masa-masa awal dakwah Islam di Makkah, kaum Muslimin menghadapi tekanan dan penyiksaan yang begitu berat dari kaum Quraisy. Rasulullah SAW kemudian memerintahkan sebagian sahabat untuk berhijrah ke Habasyah (Ethiopia), sebuah negeri yang dipimpin oleh Raja Najasyi, seorang penguasa yang dikenal adil. Di sana, para sahabat berharap dapat menjalankan agama mereka dengan aman tanpa gangguan.
Kaum Quraisy tidak tinggal diam. Mereka mengirim utusan, di antaranya Amr bin Al-Ash, untuk meminta Raja Najasyi mengembalikan kaum Muslimin ke Makkah. Namun sebelum mengambil keputusan, Najasyi memanggil para sahabat dan meminta mereka menjelaskan ajaran Islam. Ja'far bin Abi Thalib kemudian berdiri mewakili kaum Muslimin, menjelaskan akhlak Islam, serta membacakan ayat-ayat dari Surah Maryam yang mengisahkan kelahiran Nabi Isa AS dan kesucian Maryam.
Ketika mendengar lantunan Surah Maryam, Raja Najasyi beserta para pendeta yang hadir tak mampu menahan air mata. Kisah yang dibacakan begitu menyentuh hati mereka hingga Najasyi berkata bahwa ajaran yang dibawa Nabi Muhammad SAW dan Nabi Musa AS berasal dari sumber cahaya yang sama. Ia pun menolak permintaan utusan Quraisy dan memberikan perlindungan kepada kaum Muslimin yang berhijrah ke Habasyah.
Peristiwa ini menjadi bukti bahwa Al-Qur'an memiliki kekuatan menyentuh hati siapa saja yang mendengarkannya dengan kejujuran dan ketulusan. Raja Najasyi tidak menilai Islam berdasarkan prasangka atau tekanan politik, tetapi dengan hati yang terbuka terhadap kebenaran. Sikap adil dan keberaniannya dalam membela kaum Muslimin menjadikannya salah satu tokoh yang dikenang dalam sejarah Islam.
Kisah tangisan Raja Najasyi mengajarkan bahwa hidayah datang kepada siapa pun yang mencari kebenaran dengan hati yang bersih. Kejujuran dalam mendengar, keberanian menerima kebenaran, serta keadilan dalam mengambil keputusan merupakan teladan yang patut dicontoh oleh setiap Muslim. Peristiwa tersebut juga menunjukkan bahwa Al-Qur'an bukan hanya untuk dibaca, tetapi untuk direnungkan hingga mampu melunakkan hati dan menguatkan keimanan.
Sumber : https://mediadakwah.id/tangisan-raja-najasyi-saat-mendengar-surah-maryam/