HARAM BIN MILHAN: KEMATIAN INDAH DALAM TRAGEDI BIR MA’UNNAH

Di balik syuhada Bi’ru Ma’unah tersimpan salah satu kisah kematian paling indah dalam sejarah Islam. Tragedi ini terjadi ketika Rasulullah ﷺ mengutus 70 sahabat ahli Qur’an untuk berdakwah ke kabilah Bani ‘Amir di Najd. Misi mereka bukan untuk berperang, melainkan menyebarkan ajaran Islam dengan penuh kelembutan dan keberanian.
Salah satu sahabat yang diutus adalah Haram bin Milhan. Ia membawa sebuah surat dakwah dari Rasulullah ﷺ, yang ditujukan kepada Amir bin Tufail, pemimpin setempat. Surat itu berisi ajakan untuk mengenal Islam dan menyeru pada tauhid. Haram membacakannya di hadapan mereka dengan penuh keberanian, menyampaikan risalah Allah dengan tulus dan tegas.
Namun, pengkhianatan terjadi saat surat itu dibacakan. Seorang lelaki menikam Haram bin Milhan dari belakang, dan beliau roboh di tanah. Meskipun terluka parah, Haram tetap menunjukkan keteguhan iman. Dengan senyuman dan keyakinan, ia berkata, “Fuztu wa Rabbil Ka‘bah – demi Rabb Ka‘bah, aku telah beruntung.” Kalimat ini menjadi simbol wafatnya seorang sahabat dalam keadaan mulia, membawa risalah Allah hingga akhir hayatnya.
Peristiwa ini menjadi bukti pengorbanan para sahabat yang rela menumpahkan darah demi dakwah. Kisah Haram bin Milhan mengingatkan umat Islam bahwa kematian di jalan Allah adalah bentuk kemenangan yang hakiki, dan bahwa pengorbanan untuk kebenaran akan selalu dikenang.
Kematian para syuhada Bi’ru Ma’unah mengajarkan kita pelajaran berharga: kemuliaan hidup bukan diukur dari lamanya umur, tetapi dari cara kita menutup perjalanan hidup dengan iman dan pengabdian. Semoga kita dapat meneladani keteguhan mereka dan menapaki hidup ini dengan keberanian dan keyakinan yang kuat.
Sumber:
● RisalahNet. “Haram bin Malhan: Pahlawan Sumur Ma’unah.” https://risalahnet.wordpress.com/2023/08/04/haram-bin-malhan-pahlawan-sumur-maunah/